Di Mataram harga gelas plastik cup naik dari semula Rp11 ribu per pak menjadi Rp17 ribu. Dengan 1 pak sebanyak 50 gelas, kenaikan harga menjadi Rp120 per gelas plastik.
Kenaikan harga itu cukup memengaruhi pedagang kecil yang menjual minuman dengan gelas plastik. Seperti penjual Pop Ice, minuman yang disukai anak-anak.


“Dulu gelas plastik ndak kita hitung harganya. Jadi biasa aja (menggunakan gelas plastik). Sekarang harus dihitung,” jelas Mulyadi penjual minuman semacam Pop Ice di Pagutan Mataram.
Mulyadi kini sedang berusaha menemukan cara agar pembelinya tak pergi. Pernah ia memikirkan menggunakan kantung plastik yang biasa dipakai mengemas gula. Tapi meski lebih murah dari gelas plastik cup, tetap saja harga plastik kemasan gula itu juga naik.


Dia akhirnya pernah ingin meminta pembeli membawa sendiri gelas dari rumah. Tapi urung dilakukan. Sebab sewaktu dia mencoba, anak-anak yang menginginkan Pop Ice tak jadi membeli.


Kepada Kalikata Online, Mulyadi menceritakan pengalamannya yang ingin agar pembeli membawa gelas sendiri. Anak-anak itu, kata Mulyadi, mengangguk-angguk saja tapi tak kembali lagi ke lapaknya membawa gelas.
“Mungkin ibunya marah-marah kebingungan di rumah karena anaknya meminta gelas,” ujar Mulyadi tertawa.
Tapi mungkin Mulyadi tak akan tertawa lagi manakala dia mengetahui dengan detail apa yang sebenarnya terjadi sehingga harga plastik kini naik.


Jauh dari sana, di peta yang bahkan tak pernah ia lihat, ada konflik besar yang tak ia pahami. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat membuat harga minyak dunia naik, dan dari situ merambat ke bahan baku plastik. Nafta, yang jadi dasar pembuatan gelas plastik, ikut terdorong naik. Di tingkat pasar, harga plastik melonjak hingga dua kali lipat di beberapa tempat. Apa yang jauh itu, sekarang pelan-pelan jadi dekat.
Itu pula yang dialami seorang pedagang kecil lainnya bernama Marwah. Dia tidak lagi menyeduh mi gelas untuk anak-anak yang datang ke lapaknya. Marwah, tak lagi menyajikan mi dalam gelas untuk disantap di kios kecilnya. Pembeli kini membawa pulang mi untuk menyeduh sendiri di rumah.


Anak-anak yang biasanya duduk bergerombol di bangku kecil, menunggu mi lembek setelah diseduh, kini meminta orangtua mereka menyeduhkan di rumah.
Di rumah-rumah keluarga, cerita serupa juga terjadi. Ibu-ibu mulai mengingatkan anaknya untuk membawa botol minum sebelum keluar. Remaja yang dulu cuek kini menggantung tumbler di tasnya.
Semua orang menyesuaikan diri, sedikit demi sedikit. Tidak ada yang benar-benar ingin berubah, hanya saja keadaan sedang memaksa.


Tapi sore itu ada juga satu dua anak menuju lapak Mulyadi dengan membawa gelas sendiri untuk minuman dingin Pop Ice. Tak ada yang membicarakan perang. Tak ada yang menyebut minyak, nafta, atau geopolitik.
Tapi satu hal yang mereka ketahui, dunia bisa berubah tanpa diketahui alasan sepenuhnya, dan yang pertama kali terasa justru hal-hal kecil. Gelas plastik, minuman murah, dan keinginan sederhana seorang anak untuk melepas dahaga. Dan dari situ, hidup dipaksa belajar beradaptasi.[]

Penulis Yeni Irmaya

Ikuti kami